Senin, 31 Oktober 2011

MAKALAH SIFILIS

KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum. Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PENYAKIT HUBUNGAN SEKSUAL (SIFILIS)”.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis
itu sendiri dan umunya bagi seluruh pihak yang mau membacanya.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Retno Martini W, selaku dosen dan pembimbing mata kuliah Mikrobiologi
2. Teman-teman yang selalu setia mendukung tersusunnya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan baik materi maupun teknis penulisan. Oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan demi langkah penyempurnaan makalah ini terima kasih.









Bogor,30 desember 2010









i
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Insiden sifilis telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, dilaporkan 53.000 kasus pada tahun 1996, sedangkan pada tahun 1992 113.000 kasus. Namun, jumlah kasus sifilis primer dan sekunder meningkat pada tahun 2000-2007.Pada tahun 2007, 11.466 kasus dilaporkan kepada US Centers for Disease Control and Prevention.Sebagian besar dari peningkatan ini terjadi pada pria, terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria lain. Keseluruhan kasus yang dilaporkan pada wanita menurun. Lebih dari 80% kasus yang dilaporkan di selatan Amerika Serikat. Kecenderungan untuk kasus sifilis kongenital terjadi penurunan selama sepuluh tahun terakhir.

Angka Kematian dan Kesakitan
• Komplikasi utama pada orang dewasa meliputi neurosifilis, sifilis kardiovaskular, dan gumma. Kematian akibat dari sifilis terus terjadi. Satu studi menemukan bahwa dari 113 kematian akibat penyakit menular seksual, 105 disebabkan oleh sifilis, dengan jantung dan neurosifilis;
• Angka-angka ini terus meningkat sejak munculnya epidemi AIDS, karena penyakit ulkus kelamin (termasuk sifilis) adalah kofaktor untuk penularan HIV. Selain itu, pasien yang tidak diobati beresiko mengalami perkembangan yang cepat untuk neurosifilis dan untuk komplikasi.
• Kongenital sifilis adalah hasil yang paling serius sifilis pada wanita telah menunjukkan bahwa proporsi yang lebih tinggi bayi terpengaruh jika ibu telah diobati sifilis sekunder, dibandingkan dengan sifilis laten yang tidak diobati dini.Karena Treponema pallidum tidak menginvasi jaringan atau plasenta janin sampai usia kehamilan bulan kelima, sifilis menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, atau kematian segera setelah melahirkan.

Di Amerika Serikat, sifilis yang lebih umum di kalangan orang-orang dari ras dan etnis minoritas. Prevalensi sifilis yang dilaporkan antara orang kulit hitam agak lebih tinggi daripada kelompok etnis lain. Namun demikian, tingkat ini telah menurun secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2000-2003, sifilis menurun dari 12 kasus per 100.000 penduduk hingga 7,8 kasus per 100.000 penduduk pada kelompok etnis ini (McCalmont, 2009).

Di Indonesia, pada beberapa puluh tahun yang lalu, nama “PHS” yang paling terkenal adalah “Raja Singa”, yang menjadi korban umunya adalah kaum dewasa, antara usia 19-35 tahun. Tetapi yang kini muncul dan lebih memprihatinkan adalah penderita penderita PHS bukan hanya orang-orang
1
yang telah dewasa, tetapi dari kalangan remaja telah menjadi korbannya. Hal ini, bukan rahasia lagi.
Bukan saja karena akibat adanya dampak negatif dari era modernisasi yang telah melanda di hampir setiap lapisan masyarakat yang secara tidak langsung ikut pula menambah dorongan image ke arah keliru dan menyimpang, yakni menjadi lebih terfokus ke hal-hal yang hanya menggambarkan kebangkitan nafsu birahi, dan lain sebagainya lagi, yang jelas tidak sehat serta menjurus pula ke perbuatan seksual yang negatif, sehingga timbullah istilah “Penyakit Hubungan Seksual”.

1.2.Tujuan menyusun makalah ini untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa,
a.Macam-macam penyakit hubungan seksual yang sering terjadi di lingkungan
masyarakat
b. Upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi penyakit hubungan seksual.
c. Cara penyebaran penyakit hubungan seksual

1.3.Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini, penulis membatasi masalah yaitu : pengertian PHS, cara penularan, organisme penyebab, jenis-jenis PHS, interprestasi pengobatan, dan upaya untuk mencegah PHS

1.4.Metode Penelitian Masalah
Metode penelitian bergantung pada kepentingan penulisan makalah, sebagai tahap pembelajaran untuk penyusunan yang berupa makalah, maka metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Sumber Pustaka. Penelitian ini dilaksanakan dengan cara membaca beberapa sumber bacaan/sumber pustaka yang berhubungan dengan tema dan makalah.












2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian
Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Treponema pallidum yang menyerang manusia. Nama lain dari sifilis penyakit raja singa. Penyakit ini mempunyai beberapa sifat, yaitu perjalanan penyakitnya sangat kronis, dapat menyerang semua organ tubuh, dapat menyerupai macam-macam penyakit, mempunyai masa laten, dapat kambuh kembali (rekuren), dan dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga menimbulkan sifilis kongenital. Selain melalui ibu ke janinnya dan melalui hubungan seksual, sifilis bisa juga ditularkan melalui luka, transfusi dan jarum suntik .
Sifilis termasuk penyakit yang ditularkan secara seksual, tetapi setiap pasien dengan manifestasi sifilitik pada awalnya dapat ditemukan oleh dokter praktek dan lesi genital dapat dikelirukan dengan gangguan ginekologis. Biasanya terdapat edema vulva generalisata unilateral yang cukup besar. Chancre dimulai sebagai muncul kemerahan yang tak nyeri, yang kemudian menjadi popular. Erosi permukaan dengan segera menimbulkan ulkus dengan tepi yang berbatas jelas, bulat dan teratur. Dasarnya dapat memperlihatkan jaringan granulasi yang bersih, dengan warna merah yang suram, walaupun ada kemungkinan terdapat keropeng kekuningan yang kemudian mengering sebagai scab. Jika tidak diobati, lesi biasanya memerlukan waktu satu atau dua bulan untuk sembuh. Biasanya tidak terdapat nyeri, kecuali bila terdapat infeksi sekunder yang bermakna.
Manifestasi sekunder dari sifilis adalah generalisata,tetapi dapat termasuk daerah kemerahan pada vulva atau ulkus yang berkaitan dengan bercak kulit berwarna merah mawar yang umum. Lesi seperti ini harus selalu dicurigai.
Diagnosis sebelum terapi merupakan hal yang wajib. Pencarian spiroketa dalam kerokan dari dasar chancre biasanya mudah dilakukan, asal sampel diambil secara langsung. Walaupun demikian, kasus yang mencurigakan sebaiknya dirujuk ke klinik penyakit kelamin karena diagnose yang tepat sangat penting. Dalam diagnose banding harus dipikirkan lesi granulomatosa yang jarang-granuloma venereum atau imfogranuloma inguinale. Herpes vulva dengan inflamasiberat dan papula yang memecah menjadi ulkus, jarang menyerupai sifilis. Diagnosis serologis biasanya memakan waktu enam minggu, dimana pada keadaan ini uji flokulasi seperti reaksi.
Wasserman atau VDRL akan positif. Karena banyak penyakit misalnya patek dapat memberikan reaksi Wasserman yang positif, maka disiapkan suatu uji imobilisasi Treponema pallidum (TPI).
3
Pengobatan harus selalu diawasi oleh spesialis genitor urinaria dipandang dari kebutuhan akan tindak lanjut pengujian dan penelusuran kontak. Respon yang baik biasanya didapat dengan penisilin, maka diberikan tetrasiklin.
Diagnosis
Adanya banyak ulkus menegakkan diagnosis sementara herpes gentalis, yang harus dikonfirmasi dengan menusuk Vesikel untuk mendapatkan cairan vesikel atau dengan menggosok dengan ujung kapas lidi (setelah mengolesikan lignokain 20% beberapa menit sebelumnya) untuk mendapatkan sel epitel dan mengirimkannya dalam medium tranpor virus untuk pemeriksaan biakan
A.      Keluhan dan Gejala
Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan, sebelum tes serologis, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut "Peniru Besar" karena sering dikira penyakit lainnya.
Berdasarkan cara penularannya, sifilis dibagi menjadi 2 macam:
1. Sifilis Kongenital (Bawaan)
Sifilis dapat ditularkan oleh ibu pada janinnya saat persalinan, namun sebagian besar kasus sifilis kongenital merupakan akibat penularan in utero.
2. Sifilis Akuisita (didapat)
Sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual, luka, transfusi darah dan jarum suntik.
Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:
1. Stadium Primer
Terbentuk Chancre pada tempat infeksi sekitar 3 minggu setelah infeksi yang berukuran beberapa mm sampai 2 cm. Chancre ini bersifat soliter, nyeri, mengeras, dan terutama terdapat di daerah genitalia, mulut dan anus (Wilson, 2001).
Kebanyakan chancre muncul pada penis, anus, dan rektum pada pria, sedangkan pada wanita pada vulva, leher rahim dan antara vagina dan anus (perineum). Selain itu dapat terbentuk di bibir, tangan, atau mata. Luka di vagina dan anus mungkin tak terdeteksi kecuali jika dilihat oleh seorang dokter. Lesi biasanya sembuh tanpa pengobatan dalam waktu 6 minggu(Swierzewski, 2007).
2. Stadium Sekunder
Gejala klinis pada stadium ini biasanya terjadi 6 minggu setelah pecahnya Chancre atau selambat-lambatnya 6 bulan setelah infeksi. Penderita sering mengalami demam.Semua jaringan tubuh dapat diserang terutama kulit dan selaput lendir. Kulit dapat mengalami kelainan yang tidak gatal berupa makula, papula, pustula (Wilson, 2001).

4
Ruam sering muncul sekitar 6 minggu sampai 3 bulan setelah chancre sembuh. Ruam dapat menutupi bagian tubuh, tetapi cenderung meletus pada telapak tangan atau telapak kaki. Ini tidak gatal. Lesi menyakitkan juga dapat terbentuk di selaput lendir mulut dan tenggorokan dan pada tulang dan organ dalam. Pada saat ini, penyakit ini sangat menular, karena bakteri terdapat pada sekresi dari lesi. Ruam biasanya sembuh tanpa pengobatan dalam waktu 2 sampai 6 minggu. Gejala lain berupa demam, sakit tenggorokan, kelelahan, sakit kepala, sakit leher, sakit sendi, malaise dan rambut rontok. Sejumlah besar pasien tidak menunjukkan gejala pada tahap ini dari penyakit.
3. Stadium Laten
Pada stadium ini disebut fase tenang yang terdapat antara hilangnya gejala-gejala klinik sifilis sekunder dan tersier ini berlangsung antara beberapa bulan sampai bertahun-tahun.
Bakteri tetap aktif dalam kelenjar getah bening dan limpa. Stadium ini bisa bertahan 3-30 tahun dan mungkin tidak berlanjut ke sifilis tersier. Sekitar 30% dari orang yang terinfeksi bertahan dalam keadaan laten.
4. Stadium Tersier
Stadium tersier dapat terjadi bertahun-tahun setelah gejala-gejala sifilis sekunder menghilang. Muncul kelainan-kelainan yang terjadi akibat reaksi alergi dari jaringan terhadap organisme yang berupa reaksi gumma. Kelainan yang terjadi berupa rusaknya organ dalam seperti otak, syaraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan persendian.
B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan fisik.Pemeriksaan fisik dilakukan di seluruh permukaan kulit, rambut dan kuku, pembengkakan kelenjar getah bening, selaput lendir mulut, daerah genitalia/anogenitalia. Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan sediaan langsung dan serologis.
Ada 2 jenis pemeriksaan darah yang digunakan:
• Tes penyaringan : VDRL (venereal disease research laboratory) atau RPR (rapid plasma reagin).
Tes penyaringan ini mudah dilakukan dan tidak mahal. Mungkin perlu dilakukan tes ulang karena pada beberapa minggu pertama sifilis primer hasilnya bisa negatif.
• Pemeriksaan antibodi terhadap bakteri penyebab sifilis.
Pemeriksaan ini lebih akurat. Salah satu dari pemeriksaan ini adalah tes FTA-ABS (fluorescent treponemal antibody absorption), yang digunakan untuk memperkuat hasil tes penyaringan yang positif.
Pada fase primer atau sekunder, diagnosis sifilis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap cairan dari luka di kulit atau mulut.

5
C. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Treponema pallidum yang termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, dan genus treponema. Treponema pallidum berbentuk spiral, panjang 5-20 µm, lebar 0,1-0,2 µm,gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol.
D. Cara Pencegahan
Tidak ada vaksin untuk mencegah terjangkitnya sifilis. Pencegahan dapat dilakukan dengan:
- Tidak berhubungan seksual dengan orang yang memiliki penyakit sifilis
- Tidak berganti-ganti pasangan
- Penyuluhan mengenali bahaya penyakit hubungan seksual (PHS) pada masyarakat
- Pemeriksaan darah pada ibu hamil melalui STS (Serological Test for Syphilis) untuk menghindari terjadinya congenital sifilis
Sifilis tidak menular melalui pelukan, makan menggunakan peralatan makan yang sama, jabat tangan dan dudukan toilet.
E. Cara Pengobatan
Pengobatan dilakukan tergantung stadium sifilis yang diderita. Biasanya diberikan antibiotik seperti suntikan penisilin sebagai berikut:
- Sifilis stadium primer, diberikan Procaine penicilin G sebanyak 1 kali suntikan
- Sifilis stadium sekunder, biasanya diberikan Benzathine penicilin.
Penisilin juga diberikan kepada penderita sifilis fase laten dan semua bentuk sifilis fase tersier, meskipun mungkin perlu diberikan lebih sering dan lebih lama.
Jika penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau tetrasiklin per-oral selama 2-4 minggu.
F. Rehabilitasi
Tidak ada rehabilitasi yang diperlukan untuk tahap awal sifilis.Rehabilitasi tahap-tahap selanjutnya akan tergantung pada perjalanan penyakit.
G. Prognosis
Prognosis sifilis stadium primer dan sekunder baik sedangkan stadium sekunder buruk. Pada stadium primer, sekunder, dan awal sifilis laten dapat diobati dengan antibiotik. Akhir laten (lebih dari 1 tahun setelah tahap kedua) sulit untuk diobati. Sifilis tersier memiliki angka kematian sangat tinggi akibat efek luas dari penyakit pada sistem saraf pusat.
Neurosifilis (di mana bakteri menyerang sistem saraf) dapat terjadi pada individu yang tidak diobati. Hal ini mengakibatkan meningitis, kelumpuhan, penyakit mental, dan degenerasi dari saraf tulang belakang. Jika pembuluh darah yang terkena, seorang stroke mungkin terjadi.

6
2.2.Cara Penularan
Secara umum, PHS memang bisa ditularkan lewat hubungan seksual. Akan tetapi, karena hubungan seksual ternyata banyak ragamnya dan setiap cara juga bisa saja mengundang resiko penyakit yang tersendiri, maka para medis menguraikan sebab-sebab atau cara-cara yang sering mengakibatkan PHS.
1. Heteroseksual
: hubungan seksual antara pria dan wanita (suami-istri)
2. Homoseksual : hubungan seksual antara pria dengan pria
3. Lesbian : hubungan seksual antara wanita dengan wanita
4. Biseksual : hubungan seksual antara sesama jenis dan juga dengan lain jenis (baik pria dengan pria, pria dengan wanita atau wanita dengan wanita)
Organ yang digunakan :
1. Gento-genital (vagina sex) : antara organ genital (alat kelamin)
2. Oro-genital (oral sex): antar-organ genital dengan mulut
3. Ano-genital sodomi : antar-organ genital dengan anus
Cara-cara kontak atau hubungan seksual tersebut menetukan masuknya kuman ke dalam tubuh dan juga menentukan kelainan awal pada organ yang sakit, sehingga memudahkan di dalam menentukan diagnosis.
Isitilah lain dalam penyakit hubungan seksual :
a. Promiskuitas adalah sebutan untuk seorang yang melakukan hubungan seksual
dengan banyak paliter
b. Prostitusi adalah suatu kegiatan seksual dengan banyak padangan tanpa seleksi dan menerima bayaran, yang di dalam bahasa Indonesia disebut Pekerja Sek Komersil (PSK)
2.3.Organisme penyebab Penyakit Hubungan Seksual
Belasan atau puluhan PHS yang ada umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa, parasit dan jamur. Ke-5 mikro organisme tersebut hanya bisa dilihat melalui mikroskop
2.4.Upaya untuk mencegah tertular PHS
Untuk mencegah tertularnya penyakit hubungan seksual bisa menggunakan
slogan “4 JANGAN” :
1. Jangan melakukan: Hubungan intim secara anal ataupun vaginal dengan berganti-ganti pasangan
2. Jangan lupa : Gunakanlah kondom,bila harus berhubungan intim dengan seseorang yang masih meragukan.
3.Jangan menerima : Kontak/tranfusi darah tanpa screen (penyaringan) darah
4.Jangan pernah mau : Memakai jarum suntikan secara bergantian

7
BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Penyakit hubungan seksual terdiri dari HIV/AIDS, Candidosis genitalis, Candyloma Acuminatum, gonore, infeksi Gardnerella vaginalis, Ulcus molle, Trichomoniasis, Sifilis dan sebagainya.
Penyakit hubungan seksual bisa menular melalui hubungan seksual yang
kurang baik dan kontak secara tidak langsung dengan benda-benda milik penderita.
Untuk mencegah penyebaran penyakit ini bisa menggunakan atau
menerapkan slogan “4 JANGAN”


3.2.Saran

Untuk menanggulangi PHS, maka penulis mensarankan :
1. Perlu pengobatan yang tepat
2. Perlu peningkatan penyuluhan bidang kesehatan
3. Perlu peningkatan pengobatan dan pengawasan medis pada WTS
4. Perlu kerjasama dengan bidan dan dokter praktik partikuler
5. Perlu peningkatan fasilitas diagnosis dan pengobatan
6. Perlu prioritas program pemerintah









8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar